"......fungsi dari intelektual - intelektual itu ialah untuk menanamkan homogenitas dan kesadaran akan fungsi ke dalam diri kelompok sosial yang menjadi induknya.....fungsi yang bergerak melampaui medan ekonomi dan mencakup level sosial dan politik...tapi, para intelektual suka beranggapan diri mereka independent dan otonom. mereka tak sadar akan adanya fakta bahwa mereka memiliki kaitan dengan seuah kelompok sosial tertentu diman mereka menjadi pembawa suaranya...." ( gramsci )
jika begitu adanya, maka para intelektual indonesia harus kembali menyadari eksistensinya di negara tercinta ini, karena sesungguhnya di pundaknyalah beban masa depan bangsa ini.
Kata - kata itu mengingatkanku pada perkataan che guevera kepada "anak" bangsanya
"anakku tumbuhlah kalian menjadi seorang revolusioner.....di atas semua itu,jagalah selalu hatimu sehingga bisa merasakan dan peka terhadap segala bentuk ketidak-adilan dan teguhkan dirimu untuk melawannya, dimanapun oleh siapapun di muka bumi ini. inilah kualitas terbaik dari seorang yang revolusioner "
Tapi sayang, anak bangsa ini telah asyik bermimipi tentang kemapanan, dan parahnya lagi rela menjual bahkan menipu atas nama ilmu pengetahuan dan keadilan.
Jika keadaannya seperti ini, kepada siapa rakyat akan lagi percaya ? benar kata wiji thukul
suara - suara itu tidak bisa di penjarakan
disana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pembeontakan !
Ataukah jangan - jangan permasalahan yang dihadapi negara akhir - akhir ini yang mencoreng harga diri bangsa seperti terbentuknya RMS, jaringan terorisme dll adalah dikarenakan negara yang sudah kehilangan kendali dan akibat perilaku para intelektual yang oportunis demi kepentingan politik sementara ?
Kini kembalilah kita berfikir, apakah kemapanan pribdi yang akan selalu kita kejar atau idealisme dan perjuangan demi kehidupan sosial yang lebih baik ?
Jihad jangan lagi diartikan salah dengan hanya sekedar menteror, tapi kita harus kembalikan artinya yaitu peperangan demi kemashlahatan rakyat, kemashlahatan umat, dan bukan untuk kepentingan golongan.
kepada siappun di negara ini, apapun aktivitasnya saya serukan untuk kembali pada semangat perjuangan.
Untuk itu akan dihadirkan wacana sebagai bahan untuk berfikir dan akan menjadi landasan gerakan yang berbasis pada massa.
Maka saya akan tutup risalah ini dengan sebuah perkataan eric hoffer
"orang - orang yang terlalu serakah, hingga menggigit tangan yang memberinya makan, biasanya selalu menjilat sepat dari kaki yang menendang mereka "
salam perjuangan
jika begitu adanya, maka para intelektual indonesia harus kembali menyadari eksistensinya di negara tercinta ini, karena sesungguhnya di pundaknyalah beban masa depan bangsa ini.
Kata - kata itu mengingatkanku pada perkataan che guevera kepada "anak" bangsanya
"anakku tumbuhlah kalian menjadi seorang revolusioner.....di atas semua itu,jagalah selalu hatimu sehingga bisa merasakan dan peka terhadap segala bentuk ketidak-adilan dan teguhkan dirimu untuk melawannya, dimanapun oleh siapapun di muka bumi ini. inilah kualitas terbaik dari seorang yang revolusioner "
Tapi sayang, anak bangsa ini telah asyik bermimipi tentang kemapanan, dan parahnya lagi rela menjual bahkan menipu atas nama ilmu pengetahuan dan keadilan.
Jika keadaannya seperti ini, kepada siapa rakyat akan lagi percaya ? benar kata wiji thukul
suara - suara itu tidak bisa di penjarakan
disana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pembeontakan !
Ataukah jangan - jangan permasalahan yang dihadapi negara akhir - akhir ini yang mencoreng harga diri bangsa seperti terbentuknya RMS, jaringan terorisme dll adalah dikarenakan negara yang sudah kehilangan kendali dan akibat perilaku para intelektual yang oportunis demi kepentingan politik sementara ?
Kini kembalilah kita berfikir, apakah kemapanan pribdi yang akan selalu kita kejar atau idealisme dan perjuangan demi kehidupan sosial yang lebih baik ?
Jihad jangan lagi diartikan salah dengan hanya sekedar menteror, tapi kita harus kembalikan artinya yaitu peperangan demi kemashlahatan rakyat, kemashlahatan umat, dan bukan untuk kepentingan golongan.
kepada siappun di negara ini, apapun aktivitasnya saya serukan untuk kembali pada semangat perjuangan.
Untuk itu akan dihadirkan wacana sebagai bahan untuk berfikir dan akan menjadi landasan gerakan yang berbasis pada massa.
Maka saya akan tutup risalah ini dengan sebuah perkataan eric hoffer
"orang - orang yang terlalu serakah, hingga menggigit tangan yang memberinya makan, biasanya selalu menjilat sepat dari kaki yang menendang mereka "
salam perjuangan
0 komentar:
Posting Komentar