Sabtu, 23 Oktober 2010

kejanggalan pandangan politik salafi atas demokrasi

Sebelumnya saya berhusnudzon kepada ikhwah salafy ( sebenarnya saya tidak ingin membeda - bedakan hal ini dalam penyebutan nama, hanya saja ini untuk memudahkan mencerna perbedaan di antara keduanya ) yang sempat menuduh mereka yang masuk dalam partai dan jamaah harakah adalah ahlu bid'ah, saya anggap pernyataan itu wajar apalagi pengetahuan tentang ini hanya mereka dapatkan dari pandangan - pandangan syaikh-nya, bukan atas pemikiran mereka sendiri yang sebenarnya lebih mengetahui kenyataan ( waqi' ) yang terjadi di daerah atau negaranya....begitu pula saya berhusnudzon bahwa semua itu bukanlah untuk menjegal langkah - langkah perbaikan yang di lakukan oleh ikhwah dalam jama'ah haraki melainkan dalam rangka nasehat menasehati dalam kebenaran...
Hal pertama yang harus di luruskan disini adalah bahwa kita ( salafi maupun haraki ) berada dalam aqidah yang sama dan bergerak dalam rangka dakwah ilallah. oleh sebab itu seharusnya kita menumbuhkan wala' diatara kita Allah berfirman;
"dan orang - orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain " (at-taubah;71)
Rasulullah SAW bersabda yag artinya:
"perumpamaan kaum kuslimin dlam cinta kasih,dan lemah lembut serta saling menyayangi antara mereka seperti satu jasad apabila satu anggotanya merasa sakit maka seluruh jasadnya merasakan sakit"
oleh karena itu saya menulis ini pun dalam rangka tabayun agar jangan sampai ada kesalah pahaman yang terlalu dalam, sekaligus mengajak bahwa al wala' yang harus kita bangun adalah wala' terhadap islam dan kaum muslimin dan bukan pada golongan ataupun jama'ah.
Disini saya akan paparkan beberapa kejanggalan yang selama ini saya terima dan pahami dari ikhwah salafy khusus dalam masalah politik dan demokrasi...
1. jika demokrasi adalah haram dan kita wajib menjauhinya lalu bagaimana hukum taat kepada pemimpin yang dipilih dengan sistem haram? jika jawabannya tetap taat selama belum menampakkan kekufuran yang nyata, lalu apakah bukan kekufuran yang nyata apabila mereka lebih mengutamakan dan menjadikan demokrasi sebagai sistem yang sempurna dibandingkan islam?
padahal kami, tidaklah mengatakan bahwa demokrasi adalah sesuai dengan islam tapi kami mengatakan bahwa demokrasi adalah sistem yang dipaksakan kepada kita dan kita hanya menginginkan untuk mencegah keburukan yang lebih besar jika tidak ada satupun perwakilan umat islam disana..ini adalah jtihad bukan masalah ushul
2. jika kalian mengharamkan pemilu, dan akhirnya memilih untuk golput, bukankah itu berarti sebenarnya anda juga telah setuju dengan pendapat mayoritas yang akan menang nantinya, karena bagaimanapun juga suara individu sangatlah mennetukan dalam pemenangan pemilu, jika disana ada dua calon pemimpin yang satu nasionalis dan yang dari partai islam bukankah lebih baik jika suara kita berikan kepada pemimpin islam tersebut dari pada membuang suara itu, didasari dengan qaidah mengambil mafsadat yang terkecil?
padahal kami, akan selalu mengkaji lebih dalam mana pemimpin yang layak untuk kita pilih, bukan hanya untuk keuntungan partai saja tetapi bagi kemashlahatan umat secara umum.
3. jika tandzim itu adalah perkara bid'ah, tapi bukannya kalau kita lihat kembali sirah nabawiyah bukankah dakwah nabi berfase, berrarti ada pengorganisasian gerakan, tidak asal - asalan, contohnya ketika memutuskan hijrah ke habasya bukankah ini muncul karena wawasan yang luas akan kondisi bangsa - bangsa yang lain, begitu pula ketika memutuskan hijrah ke madinah dan nabi memilih brangkat pada akhir - akhir bersama abu bakar, berarti ini buth pengorganisasian, lagi pula membentuk organisasi bukanlah ibadah berarti selain ibadah pada dasarnya mubah, bukankah begitu?
ini hanya beberapa kejanggalan dalam pandangan politik dari ikhwah salafi, yang saya anggap terkadang tidak konsisiten dan membuat bingung....sedangkan penilaian - penilaian ikhwah salafi terhadap harokah dan tuduhan - tuduhan mereka yang dilontarkan berupa buku - buku dan buletin itu saya lihat tidak pada tempatnya, seharusnya bila niatnya ingin sebuah perbaikan sebaiknya langsung menasehati yang bersangkutan baik itu partai atau jama'ah yang lain, karena bila hanya berbentuk polemik yang disebar ketengah masyarakat, masyaraktpun akan menjadi bingung, padahal menjelaskan kepada mereka hakikat tauhid itu lebih penting daripada mengajak mereka ikut memikirkan perbedaan ini. wallahu a'lam bishowab
semoga tulisan ini mampu menjadi bahan muhasabah bagi kita semua...amien

Kamis, 21 Oktober 2010

Belajar untuk sebuah kehilangan

ada yang datang....ada yang pergi, hilir mudik dalam hidup kita yang singkat ini....kita masih ingat bagaimana kebahagiaan itu muncul saat orang - orang yang kita sayangi datang....memenuhi hari - hari kita dengan tawa dan canda....sampai akhirnya kita lupa, bahwa perjumpaan akan selalu berakhir dengan perpisahan....
Cinta, sebesar apapun dia tidak mampu merubah perpisahan atau mengakhirinya sesuai kehendak kita...Cinta, hanya bisa melihat dari jauh dengan mata yang berkaca - kaca, melambaikan tangannya, mendoakan agar suatu hari nanti takdir mempertemukan kembali.
kita terlalu sibuk menikmati kebahagiaan yang sebentar ini hingga merasa kebahagiaan ini abadi, kita menjadi takut untuk kehilangan, kita berambisi untuk menjadi kekal, berharap akan selalu bersama dengan semua yang kita kasihi, dengan semua yang telah kita peroleh.....
" supaya kamu jangan berduka cita terhadap segala yang luput darimu, dan supaya kamu tidak terlalu bahagia dengan apa yang diberikanNya kepadamu, sesungguhnya Allah tidak menyukai orangyang sombong lagi membanggakan diri ( al hadid 22-23 )
begitulah Allah menggariskan.....supaya kita memaknai kebahagiaan ini sebagai kesempatan untuk menyadari bahwa apapun yang terjadi di hidup ini bukanlah berada ditangan kita...ada sesuatu yang tak kasat mata bekerja.....mengatur dan memelihara kehidupan ini agar tetap berlanjut....
maka Rasulullah SAW melarang umatnya untuk menangisi dan meratapi kematian itu berlarut - larut...menangislah sewajarnya.....setelah itu bangkitlah.....karena ada banyak kebahagiaan yang akan datang dan terlahir....
meskipun belajar untuk "kehilangan" tidak semudah belajar untuk "menerima"......tapi percayalah bahwa kehilangan - kehilangan yang kita rasakan akan mengajarkan kita bagaimana cara untuk menghadapinya.....

Rabu, 20 Oktober 2010

TENTANG CINTA......

" ketahuilah, cinta sagat penting bagi kalian semua. Cinta sangat penting bagi seorang wartawan. Anda wahai wartawan,apa anada akan membantah bahwa berita paling menghebohkan di abad 20 adalah cinta raja inggris kepada lady simpson,cinta yang membuatnya harus turun dari singgasana kerajaanya? Anda, wahai penyair, apa anda hendak membantah bahwa cintalah yang menyebabkan trjadinya perang troya dan memberi inspirasi homerus untuk membuat syair perang yang selalu dikenang sepanjang zaman? andai, wahai musisi, apa anda hendak membantah kenyataan bahwa sejak ditemukannya seruling dan biola maka keduanya tidak pernah berhenti menyenandungkan lagu cinta? "
kata - kata itu aku kutip dari sebuah cerpen karya DR.taufiq elhakim berjudul dalam perjamuan cinta....sungguh cinta yang rumit..
melangkah aku membuka lembaran para penyair dunia....shakespeare,..goethe, gibran...telah menuliskan rangkaian cerita cinta yang akan selalu dibaca. mereka punya andil besar menjadikan besar nama cinta....
seperti romeo and juliet....teragedi cinta yang akan selalu dikenang begitu pula hamlet,
begitu pula sayap - sayap patah gibran....tidak akan selesai..
cinta itu menjadi semakin rumit, ketika hakikatnya hanya disibak oleh akal yang terbatas...cinta menjadi begitu murah bila ukurannya hanya pelukan hangat atau cumbu mesra mereka yang bercinta.....dan cinta akan menjadi begitu misterius ketika ia diletakkan dalam timbangan perasaan yang tidak pernah objektif....
lalu kapan kita akan merasakan cinta yang begitu murni ? hanya kita yang mampu menjawabnya...karena cinta adalah "ayat" yang setiap orang mampu menafsirkannya......kita hanya harus memperhitungkan untuk dimana kita berdiri lalu melihat cinta dari segala sisinya....
maka, dengarlah dendang syair sapardi joko damono dalam menggambarkan cintanya...
"aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada" ( aku ingin, sapardi joko damono )
maka, mampukah kita mencintai dengan sederhana?
sesederhana senyum yang terkembang, perhatian yang terpancar, dan sapa yang mendamaikan?
mampukah kita mencintai dengan tulus, tanpa harus memaksa, tanpa syarat, dan tanpa basa basi kemunafikan???

Selasa, 19 Oktober 2010

mereka tak mau mendengar

walaupun genderang perang telah ditabuh, tapi tetap saja tubuh ini tak mampu bergerak lebih cepat, dia tetap tertatih...terseok -seok dalam ketidak pastian.....
meskipun kilat menyambar, hujan deras membasahi tubuh namun tetap saja tak mampu ia bergegas mencari tempat bernaung......

Hati ini menjadi buta, telinga menjadi tuli, hati menjadi sekeras batu....mati rasa...oleh hantaman kengerian hidup, hujatan nafsu kita tentang kebajikan yang kita anggap tolol...

tak habis pikir, orang - orang pun tidak peduli bahkan pada diri mereka sendiri.....tidak peduli meskipun mereka selalu dibayangi jerat kematian.

aku berdiri sendiri terdiam,
dalam jeratan kejahiliaan inikah aku harus tetap hidup?
dalam kebisuan dan kelemahan jiwa yang tak mampu mengatakan kebenaran?

langkah kakiku terseok.....
tubuhkupun terseret....arus yang semakin deras...

meskipun guntur menggelegar...tetap saja mereka tak mau mendengar...

tak sekedar mahasiswa

aku terkejut ketika membaca nukilan kata dari gramsci di bukunya eko prasetyo, begini bunyinya ".....anak - anak muda menjadi pengecut sekaligus melihat terlalu banyak kepengecutan. kekerasan spiritual yang sedemikian kuat melanda anak- anak muda itu begitu memalukan dan menyedihkan....sekolah - sekolah itu tengah mengalami disintegrasi sebagaimana yang di alami oleh institusi - institusi yang lain, dan dipenuhi dengan segerombolan gangster.....dan tak mungkin bagi negara kita untuk berharap tercipta sebuah pembaharuan masyarakat dari berandal - berandal muda ini...."
ini sebuah kegelisahan yang menimpa pemuda bangsa ini....kampus sepertinya bukan lagi sebagai wadah untuk mencetak generasi yang akan lantang menyuarakan kebenaran dan berani mengoreksi generasi tua, kampus sudah berevolusi menjadi pabrik pencetak tenaga kerja yang nantinya akan masuk dalam ruang gelap kapitalisme....
mahasiswa sudah di cuci otaknya oleh kondisi masyarakat yag sudah terlampau miskin, ya...miskin segala galanya, entah spritual, intelektual,......
" mereka menjadi golongan yang memasang gelar dengan harga jabatan,kekayaan dan kemapanan. sarjana hanya sebuah tiket untuk mendapat kenikmatan hidup. bukan saja hilang semangat perlawanan tapi juga tersungkur sudah kesadaran untuk giat membaca kehidupan " ( eko prasetyo )
disinilah garis pembeda itu, mereka yang masih sadar tak mampu berbuat apa- apa, menahan emosi tidak bisa lama, akhirnya pecah satu kata yang sangat sakral dalam sbuah revolusi sosial: PERLAWANAN....
"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan menganggu keamanan maka hanya ada satu kata : LAWAN ! (wiji tukul)

SAYAP CINTA YANG PATAH

Terkadang aku berpikir, mengapa cinta begitu kuat menguasai manusia? lama kutermenung dan akhirnya kutemukan jawabnya.....ternyata cinta tidak bersalah, cinta tidak pernah mencoba menguasai menusia, tapi kita saja yang terlalu berlebihan mensakralkan cinta lalu mendudukkannya pada tempat yang terlampau sangat tinggi, akhirnya....?
wanita hilang harga dirinya mengatasnamakan cinta, nyawa hilang dengan mudahnya mengatas namakan pengorbanan untuk cinta......siapa yang patut disalahkan?
aku mendengar lagu pemberontakan dari anak - anak punk marjinal, " cinta pembodohan " kata mereka.... iya, cinta sebenarnya tidak pernah membodohi kita, tapi kita yang terlampau bodoh lalu menyalahkan cinta dengan mengatakannya sebagai buta. " cinta buta " ? memang konyol bila kita pikirkan lagi, apapun alasannya dan seperti apapun kasusnya aku yakin NAFSU berada dibalik semua kata - kata indah itu.
cinta tidak pernah menyakiti siapapun, ia adalah gairah yang menghidupkan,...mereka sakit hati karena nafsu tidak mampu memenuhi kehendaknya.....mereka kehilangan kendali karena mereka tidak mengerti dan tidak mampu membedakan mana cinta mana yag hanya sekedar nafsu belaka.
ada yang berkata padaku " wajarlah kita mencintai lawan jenis kita ".....benar, itu sangat wajar, tapi kita yang terlalu berlebihan memaknainya.....tidakkah kalian lihat bahwa sebenarnya tidak ada cinta sejati kcuali hanya untuk Allah saja?
cinta kepada Allah itu mendorong kita untuk mencintai siapapun yang dengannya kita mampu meraih ridho Allah, cinta pada yang layak untuk dicintai...mencintai dengan cara yang Allah cintai bukan dengan cara yang ia benci...
jika sayap cinta telah patah maka cinta akan tergeletak tak berdaya, tak mampu lagi terbang, akhirnya ia di injak, dihinakan......
sayap itu jangan kita biarkan patah hanya karena kita tertipu oleh sangkar emas yang mewah, kita harus tetap tebang tinggi menuju tempat yang diridhoi, bukan sekedar terbang mengikuti angin yang berhembus....
sayap cinta kita harus kita kepakkan....bila nantinya kita harus hinggap jangan sampai kita melupakan bahwa sebenarnya tujuan kita masih jauh di langit sana.

Jumat, 15 Oktober 2010

Poligami; setuju bukan berarti mau

Wacana poligami selalu hangat untuk dibahas, baik dari kalangan agamawan maupun akademisi, tapi satu catatan saya disini, bahwa poligami yang saat ini berlaku ( kebanyakan ) di kalangan masyarakat adalah "poligami sekuler", katakanlah seperti itu, yang jauh dari adab islami. Oleh sebab itu untuk menilai mashlahat poligami tidak tepat rasanya jika hanya melihat realitas kini yang dimana poligami dipakai untuk melegalisasi "pemerkosaan hak" para wanita suci.
Membahas poligami dengan membawa ayat suci membutuhkan tulisan yang sangat panjang sebab banyak hal yang akan berkaitan dengan hal ini, oleh karena itu catatan ini hanya untuk menggambarkan bagaimana seharusnya kita ( seorang muslim ) menyikapi masalah ini.
Poligami bukan satu hal yang baru, dan bukan pula hal yang tabu. poligami telah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya, namun bukan berarti ini adalah menunjukan bahwa islam tidak menghargai perempuan, bahkan sebaliknya. untuk menilai itu kita harus melihat bagaimana kondisi masyarakat arab pada waktu itu....bukankah nabi dawud memiliki istri hampir seratus ?
oleh karena itu poligami adalah hasil budaya yang memiliki mashlahatnya sendiri. tidak semua orang harus berpoligami namun menolak untuk poligami bukan berarti menolak ayat - ayat yang telah qhat'i ( pasti ). mungkin saat ini kita belum melihat maslahatnya tapi entah beberapa tahun kedepan.
Oleh sebab itu, poligami harus kita letakkan bukan sebagai pemuas nafsu belaka melainkan sebagai sebuah solusi sosial suatu bangsa. ini hanya alternatife yang Allah berikan kepada umatnya, begitu pula ia sebagai solusi dalam kehidupan rumah tangga. maka saya tidak setuju dengan pendapat beberapa ulama ( semoga Allah merahmati mereka ) yang tidak mensyaratkan izin dari istri pertama untuk poligami..ini hanya akan menjadikan keluarga bukan lagi untuk sarana ibadah namun hanya untuk menyalurkan nafsu birahi saja...
sebab itulah kita seharusnya tidak ikut menilai rumah tangga seseorang yang menjalankan poligami, karena jika ia masih tetap memegang sunnah nabi insya Allah poligami yang dijalankan itu bukan berdasar pada timbangan nafsu melainkan kemashlahatan yang kita tidak perlu tahu, dan insya Allah tidak akan ada prempuan yang terdzolimi.
sekali lagi, mari kita tempatkan poligami sebagai solusi bukan sebagai alat untuk pemuas nafsu birahi.waallhu a'lam.

Kamis, 14 Oktober 2010

kemapanan yang melenakan

Terkadang kita tidak mampu untuk mendamaikan antara idealitas dan realitas, kerapkali idealitas itu luntur sesuai dengan perubahan realitas.
kaitannya dengan tugas seorang da'i atau inteletual adalah bagaimana seharusnya idealitas tetap dipertahankan selama masih mampu membawa maslahat dan tidak pernah menyerah untuk mewujudkannya. bukankah ini pula yang ditakutkan oleh Rasullah terhadap umatnya, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Kemapanan bagaimanpun juga adalah impian setiap orang, tidak hanya seorang mahasiswa yang belajar untuk akhirnya menjadi korban keganasan pasar.Ya,..memang tidak ada salahnya untuk menjadi mapan, tapi jika kemapanan itu membuat suatu idealitas mulia hancur dan melebur maka apa artinya?
kita patut mencontoh sayyid quthub, di hari - hari akhir dijatuhinya hukuman mati beliau sempat di tawari untuk berdamai dengan pihak pemerintah tapi apakah beliau menerima itu ?
tidak !!! tidak akan pernah !! lihatlah apa yang beliau katakan " telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rezim thogut...."
Tidak kata menyerah......hanya untuk sekedar tunduk pada dunia.
bila tubuh ini hanya akan dimakan oleh belatung - belatung di pusara kita, seperti para penjahat dan pendosa lalu apa yang akan membedakan kematian kita dengan mereka ??
tidak lain adalah sejarah kita tentang kontribusi yang tidak pernah berhenti, idealitas yang tidak pernah surut.
Maka Rasulullah SAW bersabda " sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya " oleh sebab itu kuatkan azzam mu waspadailah kemapanan yang melenakan.

Senin, 11 Oktober 2010

risalah perjuangan

"......fungsi dari intelektual - intelektual itu ialah untuk menanamkan homogenitas dan kesadaran akan fungsi ke dalam diri kelompok sosial yang menjadi induknya.....fungsi yang bergerak melampaui medan ekonomi dan mencakup level sosial dan politik...tapi, para intelektual suka beranggapan diri mereka independent dan otonom. mereka tak sadar akan adanya fakta bahwa mereka memiliki kaitan dengan seuah kelompok sosial tertentu diman mereka menjadi pembawa suaranya...." ( gramsci )

jika begitu adanya, maka para intelektual indonesia harus kembali menyadari eksistensinya di negara tercinta ini, karena sesungguhnya di pundaknyalah beban masa depan bangsa ini.
Kata - kata itu mengingatkanku pada perkataan che guevera kepada "anak" bangsanya

"anakku tumbuhlah kalian menjadi seorang revolusioner.....di atas semua itu,jagalah selalu hatimu sehingga bisa merasakan dan peka terhadap segala bentuk ketidak-adilan dan teguhkan dirimu untuk melawannya, dimanapun oleh siapapun di muka bumi ini. inilah kualitas terbaik dari seorang yang revolusioner "

Tapi sayang, anak bangsa ini telah asyik bermimipi tentang kemapanan, dan parahnya lagi rela menjual bahkan menipu atas nama ilmu pengetahuan dan keadilan.
Jika keadaannya seperti ini, kepada siapa rakyat akan lagi percaya ? benar kata wiji thukul

suara - suara itu tidak bisa di penjarakan
disana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pembeontakan !

Ataukah jangan - jangan permasalahan yang dihadapi negara akhir - akhir ini yang mencoreng harga diri bangsa seperti terbentuknya RMS, jaringan terorisme dll adalah dikarenakan negara yang sudah kehilangan kendali dan akibat perilaku para intelektual yang oportunis demi kepentingan politik sementara ?
Kini kembalilah kita berfikir, apakah kemapanan pribdi yang akan selalu kita kejar atau idealisme dan perjuangan demi kehidupan sosial yang lebih baik ?
Jihad jangan lagi diartikan salah dengan hanya sekedar menteror, tapi kita harus kembalikan artinya yaitu peperangan demi kemashlahatan rakyat, kemashlahatan umat, dan bukan untuk kepentingan golongan.
kepada siappun di negara ini, apapun aktivitasnya saya serukan untuk kembali pada semangat perjuangan.
Untuk itu akan dihadirkan wacana sebagai bahan untuk berfikir dan akan menjadi landasan gerakan yang berbasis pada massa.
Maka saya akan tutup risalah ini dengan sebuah perkataan eric hoffer

"orang - orang yang terlalu serakah, hingga menggigit tangan yang memberinya makan, biasanya selalu menjilat sepat dari kaki yang menendang mereka "

salam perjuangan