Kamis, 14 Oktober 2010

kemapanan yang melenakan

Terkadang kita tidak mampu untuk mendamaikan antara idealitas dan realitas, kerapkali idealitas itu luntur sesuai dengan perubahan realitas.
kaitannya dengan tugas seorang da'i atau inteletual adalah bagaimana seharusnya idealitas tetap dipertahankan selama masih mampu membawa maslahat dan tidak pernah menyerah untuk mewujudkannya. bukankah ini pula yang ditakutkan oleh Rasullah terhadap umatnya, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Kemapanan bagaimanpun juga adalah impian setiap orang, tidak hanya seorang mahasiswa yang belajar untuk akhirnya menjadi korban keganasan pasar.Ya,..memang tidak ada salahnya untuk menjadi mapan, tapi jika kemapanan itu membuat suatu idealitas mulia hancur dan melebur maka apa artinya?
kita patut mencontoh sayyid quthub, di hari - hari akhir dijatuhinya hukuman mati beliau sempat di tawari untuk berdamai dengan pihak pemerintah tapi apakah beliau menerima itu ?
tidak !!! tidak akan pernah !! lihatlah apa yang beliau katakan " telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rezim thogut...."
Tidak kata menyerah......hanya untuk sekedar tunduk pada dunia.
bila tubuh ini hanya akan dimakan oleh belatung - belatung di pusara kita, seperti para penjahat dan pendosa lalu apa yang akan membedakan kematian kita dengan mereka ??
tidak lain adalah sejarah kita tentang kontribusi yang tidak pernah berhenti, idealitas yang tidak pernah surut.
Maka Rasulullah SAW bersabda " sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya " oleh sebab itu kuatkan azzam mu waspadailah kemapanan yang melenakan.

0 komentar:

Posting Komentar